Ibu Rumah Tangga yang Sukses

Jadi seorang ibu rumah tangga ialah pekerjaan yang paling mulia namun ada juga yang berhasil sukses dengan bisnis dan menjadi kaya raya. Pilih tinggal di dalam rumah, menjaga anak dan suami tersayang, pasti sebuah tanggung jawab yang spesial.

Tidak tiap wanita menjadi ibu rumah-tangga dan semestinya sekarang bukan jamannya beberapa ibu yang pilih bekerja dipandang lebih berprestise dibanding ibu rumah-tangga.

Inspiratif! Berikut 5 Ibu Rumah Tangga yang Sukses Jadi Pelaku bisnis Kaya Raya

Namun di Indonesia sendiri budaya patriarki memang tanpa diakui masih demikian mendarah daging. Di mana seorang wanita yang telah menikah semestinya tinggal di dalam rumah, mengurus keluarga dan menunggu porsi uang bulanan dari beberapa suami.

Baca Juga: Wanita Indonesia Ini Jadi Miliarder

Salahkah bila mengaplikasikan kehidupan semacam itu? Kemungkinan untuk beberapa orang tidak. Namun di zaman yang serba kekinian seperti sekarang ini, wanita memiliki hak dikasih opsi dan lakukan aktivitas yang dia anggap produktif.

Tetapi tidakkah keharusan khusus wanita yang menikah memang mengurus keluarga? Jika ia repot meningkatkan diri di luar rumah, pasti tidak optimal! Memang, pengakuan semacam ini sering dilemparkan dan jadi beberapa argumen yang membuat wanita yang telah bersuami atau jadi seorang ibu, cukup bimbang bila pengin bekerja.

Namun terkadang jadi ibu rumah-tangga sekalian karyawan dilaksanakan saat memang keadaan mewajibkan begitu. Misalnya saja saat keadaan keuangan keluarga yang tidak konstan dan rumah tangga perlu pendapatan yang masih imbang, hingga seorang ibu pada akhirnya bekerja.

Namun ibu rumah-tangga yang bekerja atau menekuni usaha terkadang dilihat mata sebelah sebab mereka dipandang kurang mempunyai kekuatan. Apa Anda terhitung yang berpikir demikian?

Kelihatannya harus mulai dirubah. Sebab di bumi ini ada banyak ibu-ibu rumah tangga yang malah sukses menekuni karier sebagai pelaku bisnis andal. Tentu saja sektor bisnis yang ibu rumah-tangga tentukan memang tidak jauh dari aktivitas ibu rumah-tangga. Tentunya cerita mereka benar-benar inspiratif kan? Yok cari info satu-satu!

5 Ibu Rumah Tangga yang Sukses Jadi Pelaku bisnis Andal dan Kaya

1. Hendrawati Adji

Salah satunya aktivitas harus ibu rumah-tangga ialah mengolah. Mempersiapkan makanan untuk suami dan buah kesayangan tersayang pasti jadi sebuah kebanggaan. Tetapi untuk Hendrawati Adji, mengolah tidak cuma untuk mengenyangkan perut anggota keluarganya saja, tetapi juga sebagai kebun pendapatan. Buka usaha katering rantangan skala kecil di tahun 1972, wanita yang kerap dipanggil dengan Ibu Wati inipun layani keperluan makan beberapa mahasiswa dan pegawai bank di garasi tempat tinggalnya.

Tetapi usaha katering di dalam rumah itu terpaksa harus stop saat mengikut tapak jejak suami yang bekerja di Jepang di tahun 1979. Saat di negeri Sakura, Wati yang benar-benar sangat senang mengolah juga coba keberuntungan sebagai koki di salah satunya restaurant yang berada di Kyodo. Pekerjaan itu makin menambah kekuatan mengolah Wati berkembang sampai pada akhirnya ia kembali pada Indonesia pada 1983.

Meneruskan usaha kateringnya yang sempat mati suri, Wati juga langsung mengawali usaha dengan rasio semakin besar yaitu Yufeto Catering. Yufeto Catering diambil dari nama ke-3 anak lelakinya yaitu Yuki Bijakin, Ferry Iskandar dan Tony Priana. Tahun lagi berjalan, Yufeto Catering juga jadi salah satunya penyuplai service kulineran yang paling terkenal di Bandung.

Karena makin dikenali dan layani pesanan dalam skala besar, ada beberapa client yang malah inginkan masakan Ibu Wati ada secara daily. Perihal ini pula yang pada akhirnya membuat Tony Priana membangun sektor bisnis baru yaitu Kopi Yufeto di tahun 2017 lalu di Bandung. Lewat Kopi Yufeto, Tony dan ke-2 saudaranya pengin membuat tapak jejak kulineran si ibu makin kekal dan dicicipi semakin banyak warga dari angkatan ke angkatan.

2. Lanny Muriddi

Bila Anda ke Surabaya, pasti tidak bisa terlepas dari oleh-olehan Sambal Bu Rudy. Kulineran pedas ini demikian terkenal di semua Indonesia bahkan juga pembelinya ada yang sampai ke luar negeri. Ialah Lanny Muriddi, wanita yang pada 10 Oktober lalu genap berumur 66 tahun itu, adalah kunci keberhasilan Sambal Bu Rudy. Walau tak lagi muda, Lanny masih cepat memproses sambal unggulannya yang disukai banyak konsumen setia.

Ada satu perihal yang memikat pada cerita usaha Sambal Bu Rudy. Kemungkinan tidak banyak yang menduga jika dibalik suksesnya, produk buatan pedas ini bukan mimpi Lanny. Wanita yang dipanggil Bu Rudy ini bahkan juga telah jalani bermacam usaha dimulai dari usaha sepatu, warung pecel sampai nasi campur.

Bahkan juga sepanjang 1983 – 2007, Bu Rudy ialah seorang pebisnis sepatu di pasar Turi, Surabaya. Perombakan dalam hidupnya terjadi saat si suami, Rudy Muriddi, pulang dari memancing sekalian bawa ikan dan udang. Lanny juga mengolah hasil pancingan suaminya itu yang ditambah lagi sambal sekalian ajak partnernya. Tidak diduga, racikan sambal itu malah membuat kawan-kawan mereka terpikat dan merekomendasikan Lanny untuk mulai jual olahan sambal.

Bak gayung bersambut, Lanny juga pada akhirnya pilih merek Sambal Bu Rudy untuk olahan pedas yang dibikinnya. Tidak perlu waktu yang lama, Sambal Bu Rudy juga jadi bintang sampai beberapa petinggi tinggi seperti Presiden SBY, Presiden Jokowi dan Presiden Megawati juga terpikat. Sekarang nyaris sehari-harinya, Lanny dapat habiskan 100-200 kg cabai dan 500 kg udang sebagai bahan membuat sambal.

Dengan pegawai capai beberapa puluh orang, produksi Sambal Bu Rudy sentuh 1.500-2.000 botol per hati yang dipasarkan di enam depot di Surabaya. Pada harga per botol sambal di range Rp26 ribu – Rp30 ribu, Lanny dapat mengantongi omzet nyaris Rp1,1 miliar dalam kurun waktu sebulan! Sebuah usaha yang demikian fenomenal dan sukses berat yang bermula dari dapur rumah.

3. Nanik Soelistiowati

Untuk masyarakat Jakarta terutamanya, cemilan Pisang Goreng Madu Bu Nanik memang sangat terkenal. dan sama seperti yang dapat diterka, figur dibalik keberhasilan itu ialah seorang ibu rumah-tangga namanya Nanik Soelistiowati. Wanita yang sekarang telah berumur 64 tahun itu ialah figur yang membuat pisang goreng, cemilan yang sama dengan tepian jadi sebuah kudapan favorite bermacam kelompok.

Tidak bermain-main, diakhir minggu bahkan juga ada lebih dari 1.700 orang yang mengantre untuk memperoleh pisang goreng madu Bu Nanik. Apa lagi adanya service pesan-antar makanan online, Pisang Goreng Madu Bu Nanik makin jadi cemilan opsi angkatan modern. Bahkan juga di tahun 2017 tempo hari, Nanik dipilih sebagai merchant GO-FOOD terlaku karena rasa pisang goreng madunya memang sungguh berlainan.

Untuk penuhi keinginan yang melonjak, Nanik mengaku jika dianya sampai habiskan 2 truk pick up pisang mentah tiap hari. Saat sebelum sukses dengan pisang goreng madu, Nanik ialah seorang pelaku bisnis katering. Bermula dari pisang yang diikutkan pada menu kateringnya kerap sisa, Nanik juga coba memprosesnya jadi pisang goreng. Sebagai seorang pasien diabetes yang jangan kebanyakan konsumsi gula, Nanik juga menukar bahan makanan itu dengan madu dalam adonan pisang goreng.

Ternyata keisengan itu malah datangkan karunia untuk Nanik. Walau penampilan pisang gorengnya terlihat gosong sebab madu yang menjadi karamel saat dimasak, malah di situlah keunikan yang membuat beberapa orang terpikat mencicipnya. Seperti dikutip Kumparan, Nanik sah mengawali usaha pisang goreng di tahun 2005 dan mulai jualan di gerobak di tahun 2007 sampai jadi gerai sah seperti saat ini.

4. Tri Widayanti

Wanita tidak harus jadi figur yang hanya dapat sekolah lalu menanti seorang pria tiba dan menikah dengannya, selanjutnya usai sebagai ibu rumah-tangga yang hanya menunggu porsi bulanan. Ini kelihatannya yang terjadi di kehidupan Tri Widayanti. Semenjak masih kuliah, Tri telah aktif menjalankan bisnis dengan customer yang tidak cuma di Indonesia, tetapi juga sampai luar negeri, dengan keuntungan capai Rp60 juta /bulan!

Berpengalaman dalam sektor marketing, wanita berjilbab yang dekat dipanggil dengan Tiwi inipun sampai mendapatkan pekerjaan di luar negeri. Dengan bekal kekuatannya sebagai seorang pemasaran dan reseller sepanjang tahun, Tiwi juga memperkenalkan Fabil ke semua wanita Indonesia terutamanya muslimah.

Sekarang ini, Fabil Skincare disampaikan telah mempunyai omzet sampai miliaran rupiah. Memakai media online dan marketplace untuk memperkenalkan usahanya, pecinta Fabil juga semakin melonjak. Sukses dengan usahanya, Tiwi juga membuat jaringan komune Emakpreneur Indonesia sebagai tempat beberapa ibu rumah-tangga untuk mendapatkan pendapatan dari rumah.

5. Diajeng Lestari

Telah disebut awalnya jika ibu rumah-tangga yang pilih menekuni usaha sering dilihat mata sebelah dan pada akhirnya disepelekan. Hal itu yang dirasakan oleh Diajeng Lestari saat mulai memperdalam usaha marketplace mode muslimah namanya Hijup.com. Sebagai seorang wanita yang ibu rumah-tangga, Ajeng rupanya telah terlatih dengan dunia kerja semenjak muda.

Saat sebelum menikah dengan Achmad Zaky, Ajeng ialah seorang pegawai swasta dalam suatu perusahaan berprestise di Jakarta. Bahkan juga Ajeng tercipta dari ibu yang wiraswasta yang membuat mengetahui jika seorang ibu rumah-tangga menjadi pelaku bisnis. Kesenangannya pada usaha membuat Ajeng telah terlatih jualan dan turut dalam bermacam bazar.

Bahkan juga semenjak SD, ibu 3 orang anak ini telah jualan kerajikan tangan ke beberapa temannya. Dan baru di tahun 2011, Ajeng coba berani membangun mall online yaitu Hijup. Mujur, suami Ajeng yaitu Zaky ialah pendiri dari salah satunya e-commerce raksasa di Indonesia, bukalapak.com. Dengan kontribusi Zaky dibagian IT, Ajeng juga harus melalui perjuangan berat saat mengawali perjalanan bersama Hijup.

Kecuali kewajibannya sebagai ibu rumah-tangga, Ajeng harus juga merangkap sebagai Direktur, Manager sampai office girl untuk Hijup. Dengan bekal kesusahannya mendapati baju muslim modern yang dapat dipakai dalam bermacam acara, Hijup mulai dikenali dan jadi bintang di kelompok muslimah Tanah Air. Delapan tahun telah Hijup berdiri, Ajeng sudah sukses memperkenalkan bermacam merek baju muslim lokal dengan customer di beberapa negara. Tidak cuman untuk pasar muslimah, beberapa produk Hijup juga semakin bermacam hingga koleksinya telah dikirimkan ke 50 negara di dunia.

Pasti menyaksikan apa yang sukses dilaksanakan ke-5 ibu rumah-tangga di atas, menunjukkan jika usaha tidak cuma monopoli golongan pria saja. Seperti cuplikan Raden Ajeng Kartini, ‘gadis yang pemikirannya telah dicerdaskan. Panoramanya telah diperlebar, tidak mampu kembali hidup dalam dunia nenek leluhurnya’. Ini berlaku pada ibu-ibu rumah tangga yang diberi kebebasan untuk jalani kemauannya dalam menjalankan bisnis.